Valentinus Utomo, S. Pd

Penulis Lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah pada tanggal 19 Oktober 1991. Menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di Fakultas Keguruan dan Ilmu P...

Selengkapnya
Belajarlah Nawa

Belajarlah Nawa

Siapa sih manusia yang tidak ingin punya duit banyak, rumah bak istana, sederet mobil mewah tersedia dan lain-lainnya yang bersifat sukacita. Tapi adakah manusia yang punya keinginan untuk hidup tidak punya duit, rumah sempit, kemana-mana selalu jalan kaki karena tidak ada kendaraan dan lain-lain yang bersifat sedih? Tentu kalau disuruh memilih, tidak akan ada orang yang ingin hidup susah di dunia ini. Semuanya ingin hidup senang. Perlu kita ketahui, bahwa dunia ini diciptakan GUSTI ALLAH berpasang-pasangan. Ada senang, ada susah. Ada baik, ada buruk. Ada kaya, ada miskin. Jika kita renungkan, pasangan-pasangan yang ada di dunia ini sebenarnya hakekatnya satu. Semuanya berasal dari GUSTI ALLAH. Kalau manusia itu mau hidup senang, maka suatu saat ketika mengalami hidup susah, ia pun harus mau. Kalau kita sekarang banyak duit, maka suatu saat ketika kita tidak punya duit, maka kita harus legowo dan ikhlas menerima. Karena semua itu hakekatnya berasal dari satu. Itulah gunanya kita belajar untuk nawa (nowo, dalam bahasa Jawanya). Arti dari Nawa sebenarnya adalah tidak begitu mempedulikan sesuatu yang terjadi. Boleh dikatakan nawa itu seperti cuek, tetapi bukan cuek pada orang lain, namun cuek pada keadaan. Ketika kita punya duit, janganlah terlalu bergembira, karena dibalik itu kita bakal tidak punya duit. Ketika kita bergembira, janganlah terlalu sukacita, karena sebentar lagi kita akan mengalami kesedihan. Lha bagaimana cara yang benar untuk nawa? Cara yang benar adalah kita menganggap semua hal yang terjadi pada diri kita itu adalah sesuatu yang biasa saja. Punya duit ya biasa, tidak terlalu senang. Tidak punya duit ya biasa, tidak terlalu sedih. Hidup mewah ya biasa, tidak terlalu gembira, hidup susah ya biasa, tidak terlalu bersedih. Kita terima dengan ikhlas apa yang terjadi. Mengapa kita harus ikhlas? Karena GUSTI ALLAH senantiasa menguji ketakwaan kita. GUSTI ALLAH sangat cinta akan umatnya yang ikhlas dan berserah diri. Ketika kita bergelimang dengan duit, maka kita merasa bersyukur karena diberi kenikmatan, tetapi ketika kita tidak punya sepeser pun duit, kita pun harus merasa bersyukur karena kita masih diberi kesehatan dan panjang umur. Rasakanlah, jika kita bisa nawa atau setidaknya belajar nawa, maka dunia ini akan indah. Kita bisa menikmati indahnya dunia tanpa menggerutu meskipun kita tidak punya duit.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali